Catatan Harian Waidi\’s


The Art of Re-engineering Your Mind For Success

Posted in Buku NLP oleh waidi pada Januari 14, 2008

Buku NLP 2Puji syukur kehadirat Allah SWT. Hanya dengan  hidayah-Nya buku ini akhirnya dapat saya persembahkan kepada pembaca. Saya ucapkan Selamat Datang di Rumah Pengetahuan saya yang kedua: KITIR. Saya sebut KITIR karena mendapatkan  inspirasi ketika masa kecil saya di kampung,  saat  orang tua saya sering menyebut kata KITIR. Saya menjadi penasaran dibuatnya. Setelah saya melihat sendiri, KITIR itu berasal  dari kata  “KETER” yang artinya “surat keterangan” dari RT/RW atau dari desa tentang seuatu hal seperti: surat keterangan jalan, keterangan penjualan sapi, tentang status warga dan lain-lain.  Dari terminologi tersebut, saya  sebagai anak kampung, mempunyai sejumlah harapan, mudah-mudahan apa yang saya tulis di dalam buku ini memberikan “keterangan baru” tentang sesuatu yang belum diketahui oleh pembaca. Pada hal sesuatu itu melekat dalam diri pembaca budiman!Seandainya benar bahwa ternyata buku ini memberikan “pencerahan baru” bagi pembacanya, maka saya memberanikan diri untuk mengartikan kata KITIR singkatan dari “Kiat Mutakhir”.

Sedikit berbeda  dengan KITIR saya yang pertama, “On Becoming Personal Excellent”. Pada KITIR pertama pendekatan yang saya pakai adalah refleksi   psikologi transpersonal, pada KITIR kedua saya lebih banyak menggunakan teori psikologi excellency yakni neuro linguistic programming (NLP). Oleh karenanya, saya harus menyertakan sejumput teori NLP dengan maksud memberikan frame yang jelas terhadap keseluruhan tulisan saya dalam buku ini.
¼br /> Secara keseluruhan  buku ini memberikan sejumlah KITIR (keterangan ) bahwa pikiran kita  memiliki dua sifat yang berbeda: kadang lunak selunak tahu, tetapi kadang sekeras sekeras batu. Selunak tahu karena pikiran bukanlah benda mati, melainkan lentur sehingga bisa dibentuk ulang oleh pemiliknya; sekeras batu karena pikiran terdiri dari pola-pola keyakinan yang kadang tak seorang pun mampu membentuk ulang. Pikiran itu telah membatu dengan keyakinannya meski keyakinan itu sesungguhnya keliru. Salah kaprah merupakan salah satu bentuk  pikiran yang membatu.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu besumber dari sebuah keyakinan yang salah. Banyak orang yang meyakini bahwa dirinya tak bakat terhadap suatu hal, maka selamanya tidak pernah mencoba. Dan selamanya terjebak dalam “penjara pikirannya” sendiri. Meski yang bersangkutan saar bahwa apa yang diyakininya itu salah, namun banyak orang yang tidak punya nyali untuk keluar dari penjara itu.

Kian hari penjara itu kian kuat, sehingga hidup kita terjebak sampai mati. Semakin lemah kita, semakin kuat penjara itu. Semakin besar peluang untuk menerimanya, penjara itu semakin membelenggu diri kita. Sekali lagi pikiran bukanlah benda mati yang tidak bisa didesain ulang, pikiran adalah benda lunak selunak tahu yang masih bisa dapat direkayasa menurut kebutuhan pemiliknya.

Melalui pendekatan NLP pola-pola pikiran keliru dapat direkasa ulang. Pola-pola lama yang keliru dapat didekontruksi menjadi pola baru. Sistem kepercayaan/ keyakinan lama bisa dihapus dan diganti dengan sistem kepercayaan baru. Oleh karenanya buku ini lebih banyak bicara soal sukses melalui “bongkar-pasang” pola-pola pikiran. Atau program deleting virus-virus bio komputer kita.

Bab I saya bicara secara singkat apa itu NLP, sebuah teknologi baru untuk mendesain pikiran menuju keberhasilan hidup. Untuk Bab ini saya mendapat kontribusi 1 (satu) tulisan  yang semula berbentuk wawancara antara Ronny F.Ronodirjo, pemegang sejumlah sertifikat NLP,  dengan Edy Zaqeus, Editor Pembelajar Com.

Pada Bab II saya mencoba memberikan ilustrasi melalui beberapa artikel. Secara singkat dapat saya katakan bahwa hidup manusia setiap harinya dipenjara oleh lingkungan dan oleh diri sendiri. Oleh lingkungan dari lingkungan keluarga, masyrakat, hingga tempat kerja, bahwa hidup kita nyaris tak bisa lepas dari aturan-aturan yang ada. Dari diri sendiri berupa sejumlah sistem keyakinan yang salah, tetapi dipercayai sebagi hal yang benar sehingga kita nyaris tak mampu untuk meretasnya.

Pada Bab III saya mencoba memberikan sejumlah kiat mutakhir bagaimana kita bisa keluar dari penjara pikiran. Sebuah penjara yang berasal dari persepsi diri dan orang lain (lingkungan)  terus memenjara pikiran kita. Ketidakmampuan  untuk meretas jeruji-jeruji penjara mental hanya akan menjadikan diri kita terus kerdil dan tidak akan pernah menjadi “manusia otentik”, sebuah predikat yang paling berharga dalam hidup ini.

Manusia otentik berarti manusia yang di dalam alam pikirnya sudah tidak ada lagi segala bentuk (pola pikir) yang menghukum dan menghambat lajunya pertumbuhan potensi diri sesuai dengan misi hidupnya. Apa bila hal demikian terjadi, maka pemiliknya akan melesat bak meteor.

Untuk mencapai ke sana, tidak saja diperlukan keterampilan  (kiat-kiat) bagaimana kita bisa  keluar dari penjara pikiran, tetapi kecakapan me-manage potensi pikiran kita sendiri merupakan hal yang sangat penting. Oleh karenanya, dalam Bab IV saya memberikan serangkaian kiat dan ilsutrasi tentang bagaimana mengelola pikiran agar pikiran menjadi “pembantu” yang baik dan loyal. Artinya, pikiran harus berada dalam kontol pemiliknya (kita), jangan sampai pikiran yang memiliki sifat liar itu justru mengusai diri kita.

Akhirnya saya ingin mengatakan bahwa  salah satu faktor penting menuju kesuksesan adalah keberanian kita sendiri untuk keluar dari penjara pikiran. Buku ini mencoba memberikan sejumlah KITIR dan kiatnya. Buku serial KITIR ini lahir karena masih banyak diantara kita yang belum mengetahui bagaimana diri kita  (manusia) bisa keluar dari penjara ciptaannya sendiri.

Purwokerto,  Januari 2006
Waidi

SELF EMPOWERMENT BY NLP

Posted in Buku NLP oleh waidi pada Januari 12, 2008

Buku NLP ke 3Selamat datang di Rumah Pengetahuan saya yang ketiga. Buku saya yang pertama On Becoming A Personal Excellent (Kiat Sukses Menjadi Pribadi Unggul) dan buku kedua The Art of Re-Engineering Your Mind for Success by NLP (Neuro Linguistic Programming). Puji syukur karena dua buku tersebut mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat. Mudah-mudahan buku yang ketiga ini juga demikian.

Dalam buku saya yang ketiga ini saya lebih memfokuskan pada pentingnya menumbuhkan karakter, khususnya karakter Pembelajar Sejati. Kata Stephen Covey dalam bukunya Seven Habit of Highly Effective People, bahwa siapa menabur karakter akan menuai nasib. Dengan demikian, siapa saja yang yang memiliki karakter pembelajar sejati akan menuai nasib baik, sesuai dengan cita-citanya..

Semua orang berpotensi untuk bisa memiliki karakter pembelajar sejati. Namun, dalam perjalanan hidup seseorang, seringkali mengantarkan dirinya menjadi orang yang berkarater negatif. Suatu karakter yang justru menjerumuskan dirinya ke lembah kesengsaraan hidup. Alasan utamanya adalah kondisi sosial ekonomi keluarga, kondisi psikhis dan pisiknya, dan kondisi-kondisi lainnya yang menyangkut soal berbagai kekurangan yang melekat pada dirinya.

Di lain pihak, dalam kasus tertentu seseorang yang secara kebetulan terlahir dari keluarga mampu namun ia memiliki karakter negatif. Fasilitas yang cukup dari keluarganya tidak mampu mengantarkannya menjadi pribadi yang berkarakter unggul. Dalam hal ini adalah karakter pembelajar sejati. Malah tidak sedikit jumlahnya dari kalangan ini yang merasa “termanjakan” dengan fasilitas dan kesempatan sehingga tidak memiliki karakter unggul.

Karakter menentukan nasib. Pembentukan karakter bukanlah karena latar belakang keluarga dan sosial ekonomi semata. Pembentukan karakter merupakan proses kreatif atau dinamika antara sikap positif seseorang dengan lingkungannya. Yang saya maksud dengan sikap positif adalah kesanggupan seseorang untuk tetap melihat secara positif setiap peristiwa yang melingkupinya. Bersikap positif berarti, terus menerus optimis untuk sukses meski berbagai hambatan menimpanya. Bersikap positif berarti nyaris tidak pernah menyalahkan lingkungannya atau orang lain. Kaya atau miskin, gagal atau berhasil, baginya sama saja yakni terus berusaha yang terbaik.

Motif utama seorang yang bersikap positif adalah ingin menjadi pembelajar sejati. Artinya, dari setiap peristiwa dan kondisi apa pun, yang ia inginkan adalah adanya nilai tambah bagi dirinya. Untuk kepentingan nasib jangka panjangnya ia rela menunda kesenangan sesesaat, melakoni hidupnya dengan ikhlas meski tantangan selalu menghadangnya. Baginya, dengan banyak tantangan hidup berarti kesempatan belajar sebanyak-banyaknya dari setiap peristiwa yang yang terjadi. Klik www.pembelajar.com

PAKAIAN

Posted in Tetes Embun Pagi oleh waidi pada Januari 12, 2008

PAKAIANTentunya kita sepakat bahwa pakaian merupakan hal sangat penting dalam hidup kita. Pakaian tidak saja menjadi salah satu ukuran tingkat peradaban suatu bangsa, tetapi juga dapat dijadikan indicator tingkat status social seseorang. Seringkali seseorang dilihat dari penampilan pakainnya. Pakaian juga mencerminkan kepribadian. Seseorang yang tidak suka menonjol alias kalem, biasanya hanya menggunakan pakaian yang tidak ngejreng, warna tidak menyolok. Berbeda dengan seseorang yang suka “penampilan”, biasanya suka warnya ngejreng, sepatu mengkilap, pakai parfum kuat aromanya. 

Singkatnya pakaian menjadi hal sangat penting baik untuk tingkat peradaban,status sosia, kepribadian dan bahkan kesehatan. Kehidupan kita tidak lepas dari pakaian. Agama adalah pakaian juga.

Orang Jawa menyamakan istilah agama, sama dengan “ageman” yang atinya pakaian sehari-hari. Sampai di sini marilah kita sejenak merernung  Tuhan Yang Pemurah telah menyediakan pakaian sehari-hari yakni agama kita. Pertanyaannya, apakah pakaian itu kita biarkan, kita campakan atau kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari? Kita tahu bahwa pakaian yang satu ini sangat bernilai, dan sangat mahal yang tidak dapat disamakan dengan pakaian ciptaan manusia. Pakaian apa pun yang kita beli, dan seberapa mahal pun harganya, manakala disimpan saja dalam almari, dan hanya dilihat saja, maka tidak ada gunanya.

Pakain menjadi berguna apabila kita kenakan sesuai dengan peruntukkannya, pakaian yang dibiarkan saja hanya akan lapuk ditelan waktu. Agama, dalam hal ini Islam, akan tidak ada manfaatnya apabila dibiarkan saja, dipandangi saja, dipuja-puja saja, diketahui sja bahwa Isam itu sangat bernilai. Islam akan ada manfaatnya bila dijalankan. Ibadah shalat wajib, shalat sunat, ibadah yang bersifat hablumminallah dan hablumminannas, akan terasa manfaatnya bila kita secara ikhlas dijalankan. Silakan saja, dicoba. Bagi yang belum terbiasa shalat malam, shalat tahajud, segera mencobanya. “Baju mahal” buatan Allah ini sangat mahal harganya. Coba, sesekali dipakai dengan ikhlas, Anda akan mendapatkan ketengan batin, keiklhasn hidup, yang tak ternilai harganya. Pakaian ini dikhsuskan bagi kita yang masih mengenakan “selimut” ego, selimut dingiinnya malam dan manjanya tubuh untuk terus tidur pulas. Keberanian kita untuk mengganti “selimut kumal” dengan “baju baru” dari Allah (shalat tahjud)  menjadikan kita lebih mantap dalam menatap kehidupan. Insya Allah.

KUASA SIMPATI

Posted in NLP oleh waidi pada Februari 8, 2007

Seorang pembaca rubrik saya di sebuah koran lokal berkeluh-kesah bahwa ia merasa tidak mempunyai teman. Ia jarang bergaul dengan tetangga. Meskipun ia telah berusaha untuk mencari teman, tetapi tetap saja ia merasa gagal dalam berteman (bergaul). Baginya, rumah seperti neraka.

Betapa tersiksanya, bila seseorang merasa gagal dalam pergaulan sosial. Pergaulan sosial, (selanjutnya saya sebut interaksi sosial), merupakan hal yang sangat elementer dalam kehidupan bermasyarakat. Kecerdasan intelektual, prestasi akademik, dan bahkan kekayaan sekalipun menjadi kurang berarti manakala dirinya tidak dapat berinteraksi dengan orang lain.

Menurut hemat saya, hidup ini tidak lebih sebuah interaksi sosial yang saling memberi manfaat. Sekali lagi, hanya soal interaksi sosial yang saling memberi manfaat. Contoh, seorang guru mengajar di kelas tidak lain sedang memberi manfaat. Begitu pun sebaliknya, murid memberi manfaat bagi gurunya. Sebab, tanpa kehadiran murid, profesi guru menjadi tidak bermanfaat. Dalam kehidupan bisnis juga demikian yakni penjual dan pembeli juga saling memberi manfaat.

Siapa saja yang pandai berinteraksi merupakan modal sosial yang sangat strategis. Seorang pemimpin akan berhasil memimpin bila ia pandai memberikan manfaat sosial bagi orang lain. Ia diterima kepemimpinnya karena telah memberi manfaat. Begitu juga seorang sales akan mampu menjual barangnya bila barang yang dijual memberikan nilai manfaat bagi calon pembeli.

Bagaimana cara membangun interaksi sosial yang efektif? Simpati pada orang lain merupakan kunci keberhasilan dalam interaksi sosial. Membangun simpati berarti berarti memahami dunia orang lain. Setiap individu memiliki dunianya yang berbeda atas pengalamannya tehadap suatu hal. Dalam NLP (neuro linguistic programming) disebut subjective experience. Istilah “tempe”, misalnya, bagi sebagian warga Banyumas bisa berkonotasi jorok, tetapi bagi warga luar Banyumas berarti makanan yang terbuat dari kedelai yang biasanya disajikan untuk lauk-pauk. Perbedaan ini terjdi karena persepsi atas pengalaman subjektif seseorang.
Perbedaan persepsi menjadi biang terjadinya salah pengertian dan konflik. Perbedaan persepsi adalah perbedaan cara memaknai pengalaman bagi setiap orang. Karena perbedaan dunia, atau perbedaan persepsi inilah, simpati kepada setiap orang menjadi hal yang sangat penting dalam interaksi sosial. Kegagalan memahami dunia orang lain melalui simpati, adalah kegagalan dalam membangun interaksi sosial yakni kegagalan di dalam pergaulan sehari-hari.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana membangun simpati pada orang lain? Pertama, prasayaratnya adalah rendah hati. Sifat rendah hati, siapa pun Anda, menjadi kunci pembuka pintu simpati orang lain. Sebab, manakala seseorang sudah berani –disengaja atau tidak—memposisikan diri “Aku lebih hebat dari pada Anda” atau “Anda lebih hebat dari pada orang lain”, pintu simpati telah tertutup rapat. Saluran komunikasi tertutup oleh orang-orang yang tinggi hati seperti itu.

Rendah hati berarti keikhlasan seseorang untuk “menelanjangi diri”, alias bicara tanpa embel-embel pangkat dan derajat. Tanpa persepsi alias nol. Yang ada hanyalah komunikasi sesama hamba Tuhan. Ia harus bicara dalam gelombang atau nada yang sama dengan orang lain. Perbedaan gelombang dan nada dapat menjadikan tersumbatnya komunikasi.

Kedua, fleksibelitas. Ada kecendurangan diantara kita untuk “memaksa” orang lain untuk memahami apa yang kita inginkan/pikirkan. Ada “pemaksaan” bahwa apa yang kita pikirkan, kita petakan dalam pikiran, dianggap sama dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Yang demikian salah besar dalam meraih simpati. Ingat, setiap orang memiliki dunianya sendiri, memiliki persepsinya sendiri meski dalam hal/barang yang sama (ingat kasus “tempe” di atas).

Bukan orang lain yang bodoh atau –maaf—tolol sehingga orang lain sulit sekali menerima argumen atau pemikiran kita, melainkan kitalah yang –barangkali—terlalu egois, kaku, dan maunya menang sendiri. Bukan anak-anak kita yang bandel, melainkan, kitalah yang selalu berpikir dengan cara atau kacamata kita sendiri tanpa pernah memahami dunia mereka.

Fleksibelitas menjadi kata kunci dalam mengatasi perbedaan persepsi tersebut. Fleksibelitas berarti kesediaan seseorang untuk mau memasuki persepsi (dunia) orang lain. Bukan berarti meerendahkan diri, melainkan hanya sebuah strategi menghargai persepsi orang lain agar terjalin kecocokan bicara menuju terbentuknya sebuah simpati.

Cara yang paling mudah untuk membangun simpati adalah melalui gaya bahasa mereka (orang lain). Bila mereka bicara dengan nada pelan, Anda juga pelan, bila mereka intonasinya meninggi, sesekali juga ikuti demikian. Termasuk, kata-kata yang sering mereka pakai, Anda juga harus menyesuaikannya. Juga jangan segan-segan meniru bahasa tubuh mereka. Kenapa demikian? Sebab, simpati berawal dari berbagai kecocokan dalam berkomunikasi. Dan sumber-sumber kecocokan banyak ragamnya.

Siapa saja yang rendah hati dan pandai menyesuaikan diri dengan dunia orang lain, dialah seorang komukator simpatik dan ulung. Siapa yang ulung dalam meraih simpati dialah pemenang dalam pergaulan/bermasyarakat. Itulah kuasa simpati.

NLP, TAHAYUL DAN RITUAL AGAMA

Posted in NLP oleh waidi pada Januari 31, 2007

Kenapa sebagian kaum terpelajar, pejabat, dan sebagian kalangan orang Indonesia masih percaya pada tahayul seperti memelihara keris, azimat dan sejenisnya? Dan sebagian lagi ada yang percaya pada paranormal? Demikian seorang pembaca bertanya atas tulisan-tulisan saya tentang motivasi dan NLP (neuro linguistic programming). Agak sulit saya menjawabnya, mengingat referensi saya tentang ilmu mistis itu masih sangat terbatas. Saya akan mencoba menjawab dengan perspektif ilmu NLP, yakni bagaimana NLP dapat menjelaskan fenomena tahayul.  Ilmu NLP secara sederhana adalah ilmu tentang rekayasa pola-pola pikir. Dari pola pikir (berupa keyakinan tertentu, pendapat dan persepsi) yang keliru menjadi benar, dari pola pikir (persepsi)  gagal menjadi sukses, dari kondisi pikiran pesimis menjadi optimis. Bisa juga disebut seni rekayasa kondisi pikiran.  Di dalam pikiran kita terdapat banyak sekali pola-pola atau keyakinan-keyakinan tertentu baik negatif maupun positif. Contohnya, keyakinan tertentu tentang sukses: “bahwa sukses itu harus kerja keras”, “sukses itu hanya dengan tawakal”, dan ada yang memiliki keyakinan “sukses itu bisa melalui azimat (keris, dan sebangsanya). Namun untuk keris di kalangan tertentu, tidak sebagai azimat, tetapi sebgai koleksi hobi saja. Semua keyakinan yang bersemayam di dalam alam pikir manusia tidaklah permanen. Artinya bisa berubah-ubah bila pemicunya tepat. Keyakinan yang paling dalam sekalipun, seperti agama dan ideologi, bisa berubah asal pemicunya tepat. Artinya, pikiran itu bersifat  lentur, fleksibel, namun kadang dapat mengeras (yakin sekali terhadap suatu hal). Pikiran itu seperti adonan kueh yang siap dibentuk menurut selera pemiliknya. Karena sifatnya yang lentur itu, yang berarti siap dibentuk ulang oleh pemiliknya, maka NLP merupakan alat yang mampu “memprogram ulang”  pikiran yang lentur itu sesuai dengan keinginan pemiliknya. Hampir semua teknik yang digunakan NLP bertujuan untuk “memformat” ulang pikiran agar kondisi pikiran bekerja sesuai dengan kehendak pemiliknya. Kegiatan memformat ulang hampir setiap hari dilakukan orang. Semisal seseorang bila sedang sedih, bosan, bete, dan sejenisnya biasanya mencari “terapinya” dengan cara: menonton pertunjukkan, rekreasi, konsultasi pada psikolog dan sebagainya. Semua itu dengan satu tujuan “memperbaiki” kondisi pikiran. Hanya permasalahannya, cara-cara demikian bisa efektif atau tidak. Kalau pun ada hasil, ada perubahan pikiran, apakah berlangsung lama atau sebentar saja saat setelah berekreasi. Permasalahan yang lebih penting lagi, apakah cara-cara demikian dapat “memformat” ulang  keyakinan-keyakinan yang keliru? Atau apakah cara-cara demikian dapat merubah pikiran seseorang yang sudah terlanjur memvonis diri bahwa “dirinya tidak bakat”,  “bahwa dirinya bukan menusia yang bisa sukses?” Teknologi, atau serangkaian metode yang dikemas dalam NLP bisa mnjawabnya. NLP dengan demikian bisa dikatakan “seperangkat alat untuk  menggambar atau mewarnai” pikiran.  Seperangkat ini tentunya terdiri dari: kanvas/kertas, pencil, penghapus, pewarna dan sejnisnya. Apabila dalam pikiran Anda ada “gambaran kurang yakin untuk sukses” maka NLP dengan seperangkat metodenya bisa menghapus gambar itu “ menjadi lebih yakin” untuk sukses. Perubahan kondisi pikiran dari “kurang yakin” menjadi “lebih yakin” merupakan syarat penting tercapainya sebuah kesuksesan. Seperangkat alat menggambar atau dikenal seperangkat teknik NLP sebenarnya hanya sebagai pemicu saja untuk perubahan pikiran. Apabila NLP “hanya” sebagai serangkaian alat pemicu saja, maka sebenarnya masih banyak alat/teknik di sekeliling kita yang  fungsinya “mirip” dengan NLP 

Keris atau Azimat

Banyak orang terpelajar di Indonesia yang masih memelihara keris atau sejenis azimat lainnya. Banyak orang yang ingin sukses pergi ke “orang pintar” sekedar untuk mendapatkan azimat dari berupa keris hingga rajah. Pada umumnya mereka percaya bahwa azimat itu bertuah.  Hemat saya, bertuah atau tidaknya sangat tergantung pada sejauh mana pemiliknya memperlakukan azimat tersebut. Sejauh mana yang bersangkutan memeberikan “ruh” pada barang itu.  Dalam teori NLP dikatakan bahwa “segala sesuatu di luar individu natral sifatnya”. . Coba perhatikan  tanda  berikut ini : “( “ , cekung atau cembung? Jelas masing-masing diantara kita berbeda dalam menafsirkannya, sebagian mengatakan cekung dan sebagian mengatakan cembung. Tergantung sudut pandangnya. Tergantung ke arah mana pikiran kita mau memutuskannya. Tanda tersebut di atas itu netral, mau cekung dan cembung hanyalah pikiran kita yang menafsirkannya.  Gede Prama, pakar pengembangan diri, pernah mengilustrasikannya dengan sangat menarik. Apabila suatu pagi hari, kita bangun tidur lantas  kita membuka cendela menyambut udara pagi, dan kita menemukan seonggok kantong plastik hitam di halaman rumah. Setelah kita dekati dan mencoba membuka dengan seksama barang itu, ternyata “kotoran sapi” berlebel “Kiriman dari tetangga sebelah”.  

Apa respon kita? Akan marah, melabrak tetangga atau terseyum? Jawabannya sangat tergantung bagaimana menafsirkannya. Ada yang marah! Tentu karena itu keterlaluan. Ada yang senang dan terseyum! Tentu karena kotoran itu berarti pupuk yang memang diperlukan untuk taman di belakng rumah! Maka sekali lagi, kualitas pikiran sangat menentukan sikap dan tindakan.

 

Kembali ke masalah azimat. Azimat apa pun sangat tergantung pada pikiran pemiliknya untuk memberi “makna” atau “ruh” terhadap barang itu. Bila yang bersangkutan mamaknainya sebagia barang biasa, sebagai barang koleksi semata maka tidak akan  memberikan makna apa pun terhadap barang itu. Sebaliknya bila pemiliknya memberikan makna “magis” maka sakral pula jadinya.

 

Apabila seseorang –terpelajar sekali pun—namun memiliki “keyakinan” bahwa sebuah keris dapat memberikan tuah sukses, maka keris itu berubah fungsi sebagai pemicu pikiran sukses. Setiap kali melihat dan mengingat keris kesayangannya, pikiran terpicu untuk suskses. Dalam hal ini keris berperan sebagai motivator.

Syirik?

Dalam Islam ditegaskan bahwa mempercayai sesuatu hal  (benda keris, azimat dan lain-lain) untuk maksud tertentu dengan harapan mendapatkan “pertolongan”  dari benda iru termasuk syirik. Bagi umat Islam hanya kepada Allah mereka bergantung dan memohon. Kalau demikian NLP termasuk media syirik?

 

Dilihat dari perannya, NLP sebagai media pemicu pikiran maka  secara potensial –ini yang mungkin belum disadari oleh penciptanya—bisa ditarik ke dua kitub berseberangan: “kutub hitam” yang “menghalalkan segala cara” yang penting pikiran menjadi terpicu untuk sukses, dan “kutub putih” melarang dengan tegas cara-cara syirik.

 

Mereka yang datang ke paranormal, adalah mereka yang sedang memprogram pikirannya versi paranormal. Ada dua jenis paranormal, yakni, pertama,  Paranormal yang memberikan mantra-mantra tertentu dan azimat. Paranoramal jenis ini sangat rentan akan praktek-praktek berbau syirik. Kesyirikan terjadi karena Paranormal memberikan “azimat” tertentu yang dipercayai oleh pasiennya. Jenis Paranormal kedua adalah Paranormal kategori “Konsultan”. Paranormal ini hanya memberikan ramalan “spekulatif” dengan memberikan sejumlah saran-saran perbaikan perilaku positif pasiennya. Yang seperti ini tentu saja tidak termasuk syirik.

 

Apakah bantuan Paranormal menjamin sukses? Sangat tergantung pada pasiennya. Sejauh mana ia meyakini “mantra” atau “advis” yang diterima. Baik cara “syirik” maupun non syirik, keberhasilannya sangat tergantung pada kondisi pikiran pasien selama menjalani terapi. Apabila pikirannya menjadi setengah hati, tidak begitu yakin, tidak ada perubahan perilaku yang mengarah pada tujuan sukses, maka semua jenis mantra, azimat, advis dan apa pun namanya, maka tidak ada artinya. Tidak ada perubahan apa pun dalam diri seseorang tanpa persetujuan hatinya.

 

NLP yang saya pelajari di Australia termasuk NLP yang “bebas syirik” karena hampir semua metode atau alat picu yang digunakan untuk “memprogram ulang” pikiran adalah metode “artifisial”. Artinya, metode-metode yang digunakan dan dikembangkan tidak bersentuhan atau mengambil dari wilayah dunia syirik. Salah satu contohnya, bagaimana memprogram ulang pikiran adalah dengan teknik  “metafora”. Metafora adalah sebuah teknik merubah kondisi pikiran seseorang  dari kondisi negatif (tidak disiplin misalnya) ke kondisi pikiran siap menjadi berdisiplin dengan cara menggunakan kisah-kisah tertentu. Dengan mendengarkan kisah-kisah yang terpilih, menarik dan cara penyampaiannya yang menarik pula,  kondisi pikiran seseorang bisa dipicu ke arah tertentu (yang lebih baik tentunya)

 

NLP dan Ritual Agama

Menurut hemat saya, ritual-ritual tertentu dari agama tertentu memiliki fungsi yang sama dengan NLP yakni memicu kondisi pikiran ke arah yang lebih baik. Dalam Islam berdo’a atau berdzikir secara khusyuk merupakan program memicu pikiran agar lebih tenang. “Ingatlah bahwa dengan dzikir menyebut nama Allah maka hati menjadi tenang” (QS: Al Baqoroh ayat 186).

 

Peristiwa besar keagamaan seperti hari raya Idhul Fitri misalnya juga dapat dijadikan “alat” pemicu pemograman pikiran. Pada saat seseorang umat Islam sedang bertakbir secara khusyuk: Allahu Akbar 3X, dengan  serius mengahatinya maka peristiwa itu di samping sebagai ibadah tetapi sekaligus untuk dapat digunakan untuk merubah pikirannya, dari pikiran kecil (minder, tidak pede dan sejenisnya) menjadi pikiran besar (tekad dan komitmen besar untuk berubah). Dan hampir semua ritual keagamaan yang diizinkan Tuhan) terdapat banyak ritual yang dapat “memformat ulang” pikiran ke arah positif

 

Meditasi, shalat lima waktu dengan khyusuk dan solat malam dengan ikhlas merupakan ritual yang ampuh untuk menenangkan pikiran. Perlu dicatat bahwa apa pun rencana hidup dan masalah hidup, namun bila tidak dengan kondisi pikiran tenang jangan harap untuk bisa menyelsaikan masalah itu. Pikiran tenang melalui ritual keagamaan, merupakan prakondisi bagi penyelesaian masalah tanpa masalah baru.

 

Dengan demikian, bagi umat yang taat beragama, untuk memprogram pikirannya agar hidupnya sukses (dunia akhirat) tidak perlu datang ke dunia hitam yang sarat dengan kesyirikan. Ritual keagamaan tidak saja merupakan media beribadah namun hikmah dibalik itu semua adalah hikmah yang dapat memicu pikiran menjadi lebih optimal dan bermanfaat. Hanya saja, para pakar NLP belum banyak (belum ada?) yang menggali hikmah-hikmah itu sebagai teknik NLP.

 

Waidi, Penulis buku “On Becoming A Personal Excellent” dan buku “The Art of Re-engineering Your Mind for success”, seta bukau “Membangun Karakter Prima”, Trainer dan Motivator  Pengembangan Diri berbasis NLP dan dosen UNSOED, Purwokerto.

       

APAKAH NLP ITU?

Posted in NLP oleh waidi pada Maret 31, 2006

Apakah NLP itu? Pertanyaan semacam itu sering dialamatkan kepada saya dan ini wajar. Sebab, di kalangan kampus saja masih banyak yang masih awam dengan ilmu yang (di Indonesia) belum berkembang, dan belum banyak orang Indonesia yang secara khusus mempelajari NLP. Namun di kalangan business motivator, para peminat pengembangan diri, ilmu ini sudah mulai banyak dikenal dan digunakan untuk membentuk manusia unggul.

Saya sendiri mengenal istilah ini secara tak sengaja di beberapa buku-buku pengembangan diri. Dan di dalam buku-buku itu pun tidak dibahas secara khusus, hanya beberapa teknik NLP saja yang masih sangat parsial. Buku NLP komprehensif yang memuat teori-teori tentang NLP yang berbahasa Indonesia masih langka, dan mungkin belum ada.

Terdorong rasa ingin tahu apa itu NLP, saya mencoba browsing ke internet. Begitu saya klik NLP ternyata banyak sekali situs-situs NLP. Dari artikel, pengenalan, dan sejumlah training yang ditawarkan di luar negeri. Sepanjang pengetahuan saya, ilmu NLP belum dijadikan satu disiplin ilmu tersendiri setingkat sarjana (S1). Salah satu lembaga pelatihan NLP yang boleh dikatakan komprehensif adalah di tempat saya belajar yakni di Graduate Certificate in NLP, Inspiritive Pty, Sydney Australia. Kebayakan pelatihan yang ditawarkan bersifat parsial dengan waktu yang sangat pendek.

NLP bermula dari sebuah tesis seorang mahasiswa Richard Bandler dengan profesornya John Grinder pada tahun tujuh puluhan. Bandler ingin menjawab sebuah pertanyaan mendasar: mengapa (dalam bidang yang sama) seseorang bisa sukses sementara yang lain tidak? Bandler dan Grinder dengan penelitian yang intens mereka kemudian membuahkan sebuah model perilaku sukses yang bisa ditransfer/ditiru oleh orang-orang yang tidak sukses.

Perilaku seseorang, dalam hal ini adalah perilaku sukses, sangat ditentukan oleh syaraf otaknya (neuro) dalam memogram diri (otak) atau mempersepsikan diri terhadap setiap stimulus dari luar. Dengan bantuan bahasa, otak mampu merumuskan setiap bentuk perilaku sukses. Dengan bahasa pula, otak akan membuat sebuah program perilaku sukses: dari soal sikap positif meniru atau menduplikasi, hingga tindakan nyata. Oleh karenanya disebut Neuro-lingusistic Programming. Contoh, bila Anda menerima stimulus dari luar –cerita seorang sukses misalnya—kemudian Anda tertarik dan otak Anda segera membuat program diri untuk menirunya, dan membuat sejumlah program-program sukses, maka yang demikian disebut neuro-linguistic programming (NLP).

Dengan kata lain, NLP adalah bicara soal bagaiman syaraf otak (neuro) membuat suatu program perilaku tertentu (modelling) yang disebut internal programming dan bagaimana program itu dapat ekspresikan dalam bentuk perilaku yang disebut behavioural success.

Aktifitas otak pada dasarnya adalah aktifitas mencatat, merekam dan mengolah seluruh informasi yang diterima dari lingkungannya melalui panca indra. Kehebatan otak adalah merekam apa saja yang kita dengar, lihat, dan rasakan baik secara sadar atu pun tidak sadar. Otak sadar Anda (maaf) saat ini sedang konsentrasi membaca artikel ini, tetapi tanpa disadari otak Anda (dalam waktu bersamaan) juga mencatat segala peristiwa di sekitar Anda (mungkin deru mobil bila Anda membaca di jalan, mungkin udara dingin bila Anda membaca di ruang ber-AC). Dengan demikian, tak terhingga jumlahnya berapa milyar informasi yang tercatat dan terekam sejak masih orok hingga saat ini di dalam pikiran Anda. Semua rekaman peristiwa itu tersimpan di otak bawah sadar (unconsiuous mind). Semua itu adalah potensi yang tak ternilai harganya.

Kekayaan yang tersimpan dalam otak itu tidak ada manfaatnya kalau sang otak sendiri tidak mau dan mampu membuat sebuah program perilaku sukses. Dasar kerja otak kita adalah menunggu sang pemiliknya (Anda sendiri) untuk membuatkan sebuah program yang menurut Anda dapat tercapai dan cocok (ekologis). Siapa yang menyuruh otak Anda? Tidak lain adalah “intinya” otak yakni otak spiritual (SQ). Maka dalam Islam di kenal dangan kata-kata “semua tergantung niatnya”.

NLP sebenarnya adalah membantu mereka yang menginginkan sebuah paket besar kehidupan yang disebut neurological programm agar apa yang tersimpan di dalam otak (neuro) bisa didayagunakan sedemikian rupa sehingga dirinya berkembang. Di sinilah letaknya, orang sukses dan belum sukses. Orang sukses sudah terbiasa memogram dirinya, sementara orang belum sukses tidak tahu bagaimana caranya. NLP diciptakan untuk membantu mereka yang ingin sukses.

Saat ini penggunaan NLP meluas dibebagai bidang. Diantaranya untuk pengembangan SDM, percepatan pembelajaran, bisnis, komunikasi efektif, dan hipnosis. Beberapa ahli NLP menganggap bahwa hipnis merupakan cara efektif untuk meogram ulang pikiran. Pengalaman menunjukkan mereka para pengguna NLP mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan “apa yang tersimpan di dalam otaknya”.

Salah satu prinsip kerja NLP adalah, pikiran bukan benda mati yang tidak bisa didaur ulang; pikiran adalah sesuatu yang lentur, yang bisa dibentuk menurut pemiliknya. Asalkan, si pemilik setuju untuk itu. Dan hampir semua orang setuju untuk itu. Mana orangnya yang tidak ingin pikirannya sehat, positif dan sukses?

Inti NLP adalah teknik membuang hambatan mental (pikiran), membuang virus-virus negatif pikiran, dan merekayasa ulang pikiran itu agar si pemilik tidak terjebak dalam sistem berpikir yang salah. Orang bilang, jangan sampai kita terjebak dalan suatu jargon salah kaprah. NLP tidak lain, membantu kita untuk membuang salah kaprah menjadi “benar kaprah”. Mengutip pendapat Jennie S.Bev1 dalam situ Pembelajar Com (Posting 24 Oktober, 2005), tentang salah kaprah.

“Keyakinan yang bersumber dari sumber-sumber yang salah kaprah, namun telah membentuk kepribadian seseorang sedemikian dalamnya sehingga re-setting mind sudah merupakan sesuatu yang almost impossible. Sebagai contoh, mind set bahwa seorang istri adalah seorang ‘dependent’ alias ‘yang tergantung’ sudah merupakan konsep yang kadaluwarsa. Ketergantungan emosional (sebagaimana pasangan suami istri dan sahabat karib) bukanlah justifikasi yang benar untuk segala hal”.

Salah kaprah yang demikian seorang manusia yang kebetulan statusnya istri hanya akan samapai pada determinasi sebagai berikut: Manusia => Wanita => Istri => Ibu.
Nasib wanita hanya sampai seorang ibu yang dependent pada suaminya.

Bila pandangan salah kaprah ini dirubah minsetnya, melalui NLP maka hasilnya menjadi lain, nasibnya jauh lebih baik: Manusia => Wanita => Berkarir => Berkarir di PT XYZ => Manager => Punya Uang.

NLP dengan demikian akan banyak bicara bagaimana merubah mind-set yang membelenggu diri seseorang. Pertama melalui pengenalan siapa dirinya, ingin menjadi apa, dan bagaimana memanfaatkan potensinya dan belenggu mental apa yang menghambatnya. Lalu dengan kesadarannya, ia mampu memprogram ulang pikiran yang keliru alias salah kaprah.




1 Jennie S. Bev adalah konsultan, entrepreneur, educator dan penulis dari lebih dari 30 buku, 900 artikel and 1.200 resensi buku yang telah diterbitkan di USA, Canada, UK, Germany, France, Singapore dan Indonesia. Penulis mancanegara ini dapat dibaca perjuangan dan prestasinya di JennieSBev.com.