Catatan Harian Waidi\’s


NLP, TAHAYUL DAN RITUAL AGAMA

Posted in NLP oleh waidi pada Januari 31, 2007

Kenapa sebagian kaum terpelajar, pejabat, dan sebagian kalangan orang Indonesia masih percaya pada tahayul seperti memelihara keris, azimat dan sejenisnya? Dan sebagian lagi ada yang percaya pada paranormal? Demikian seorang pembaca bertanya atas tulisan-tulisan saya tentang motivasi dan NLP (neuro linguistic programming). Agak sulit saya menjawabnya, mengingat referensi saya tentang ilmu mistis itu masih sangat terbatas. Saya akan mencoba menjawab dengan perspektif ilmu NLP, yakni bagaimana NLP dapat menjelaskan fenomena tahayul.  Ilmu NLP secara sederhana adalah ilmu tentang rekayasa pola-pola pikir. Dari pola pikir (berupa keyakinan tertentu, pendapat dan persepsi) yang keliru menjadi benar, dari pola pikir (persepsi)  gagal menjadi sukses, dari kondisi pikiran pesimis menjadi optimis. Bisa juga disebut seni rekayasa kondisi pikiran.  Di dalam pikiran kita terdapat banyak sekali pola-pola atau keyakinan-keyakinan tertentu baik negatif maupun positif. Contohnya, keyakinan tertentu tentang sukses: “bahwa sukses itu harus kerja keras”, “sukses itu hanya dengan tawakal”, dan ada yang memiliki keyakinan “sukses itu bisa melalui azimat (keris, dan sebangsanya). Namun untuk keris di kalangan tertentu, tidak sebagai azimat, tetapi sebgai koleksi hobi saja. Semua keyakinan yang bersemayam di dalam alam pikir manusia tidaklah permanen. Artinya bisa berubah-ubah bila pemicunya tepat. Keyakinan yang paling dalam sekalipun, seperti agama dan ideologi, bisa berubah asal pemicunya tepat. Artinya, pikiran itu bersifat  lentur, fleksibel, namun kadang dapat mengeras (yakin sekali terhadap suatu hal). Pikiran itu seperti adonan kueh yang siap dibentuk menurut selera pemiliknya. Karena sifatnya yang lentur itu, yang berarti siap dibentuk ulang oleh pemiliknya, maka NLP merupakan alat yang mampu “memprogram ulang”  pikiran yang lentur itu sesuai dengan keinginan pemiliknya. Hampir semua teknik yang digunakan NLP bertujuan untuk “memformat” ulang pikiran agar kondisi pikiran bekerja sesuai dengan kehendak pemiliknya. Kegiatan memformat ulang hampir setiap hari dilakukan orang. Semisal seseorang bila sedang sedih, bosan, bete, dan sejenisnya biasanya mencari “terapinya” dengan cara: menonton pertunjukkan, rekreasi, konsultasi pada psikolog dan sebagainya. Semua itu dengan satu tujuan “memperbaiki” kondisi pikiran. Hanya permasalahannya, cara-cara demikian bisa efektif atau tidak. Kalau pun ada hasil, ada perubahan pikiran, apakah berlangsung lama atau sebentar saja saat setelah berekreasi. Permasalahan yang lebih penting lagi, apakah cara-cara demikian dapat “memformat” ulang  keyakinan-keyakinan yang keliru? Atau apakah cara-cara demikian dapat merubah pikiran seseorang yang sudah terlanjur memvonis diri bahwa “dirinya tidak bakat”,  “bahwa dirinya bukan menusia yang bisa sukses?” Teknologi, atau serangkaian metode yang dikemas dalam NLP bisa mnjawabnya. NLP dengan demikian bisa dikatakan “seperangkat alat untuk  menggambar atau mewarnai” pikiran.  Seperangkat ini tentunya terdiri dari: kanvas/kertas, pencil, penghapus, pewarna dan sejnisnya. Apabila dalam pikiran Anda ada “gambaran kurang yakin untuk sukses” maka NLP dengan seperangkat metodenya bisa menghapus gambar itu “ menjadi lebih yakin” untuk sukses. Perubahan kondisi pikiran dari “kurang yakin” menjadi “lebih yakin” merupakan syarat penting tercapainya sebuah kesuksesan. Seperangkat alat menggambar atau dikenal seperangkat teknik NLP sebenarnya hanya sebagai pemicu saja untuk perubahan pikiran. Apabila NLP “hanya” sebagai serangkaian alat pemicu saja, maka sebenarnya masih banyak alat/teknik di sekeliling kita yang  fungsinya “mirip” dengan NLP 

Keris atau Azimat

Banyak orang terpelajar di Indonesia yang masih memelihara keris atau sejenis azimat lainnya. Banyak orang yang ingin sukses pergi ke “orang pintar” sekedar untuk mendapatkan azimat dari berupa keris hingga rajah. Pada umumnya mereka percaya bahwa azimat itu bertuah.  Hemat saya, bertuah atau tidaknya sangat tergantung pada sejauh mana pemiliknya memperlakukan azimat tersebut. Sejauh mana yang bersangkutan memeberikan “ruh” pada barang itu.  Dalam teori NLP dikatakan bahwa “segala sesuatu di luar individu natral sifatnya”. . Coba perhatikan  tanda  berikut ini : “( “ , cekung atau cembung? Jelas masing-masing diantara kita berbeda dalam menafsirkannya, sebagian mengatakan cekung dan sebagian mengatakan cembung. Tergantung sudut pandangnya. Tergantung ke arah mana pikiran kita mau memutuskannya. Tanda tersebut di atas itu netral, mau cekung dan cembung hanyalah pikiran kita yang menafsirkannya.  Gede Prama, pakar pengembangan diri, pernah mengilustrasikannya dengan sangat menarik. Apabila suatu pagi hari, kita bangun tidur lantas  kita membuka cendela menyambut udara pagi, dan kita menemukan seonggok kantong plastik hitam di halaman rumah. Setelah kita dekati dan mencoba membuka dengan seksama barang itu, ternyata “kotoran sapi” berlebel “Kiriman dari tetangga sebelah”.  

Apa respon kita? Akan marah, melabrak tetangga atau terseyum? Jawabannya sangat tergantung bagaimana menafsirkannya. Ada yang marah! Tentu karena itu keterlaluan. Ada yang senang dan terseyum! Tentu karena kotoran itu berarti pupuk yang memang diperlukan untuk taman di belakng rumah! Maka sekali lagi, kualitas pikiran sangat menentukan sikap dan tindakan.

 

Kembali ke masalah azimat. Azimat apa pun sangat tergantung pada pikiran pemiliknya untuk memberi “makna” atau “ruh” terhadap barang itu. Bila yang bersangkutan mamaknainya sebagia barang biasa, sebagai barang koleksi semata maka tidak akan  memberikan makna apa pun terhadap barang itu. Sebaliknya bila pemiliknya memberikan makna “magis” maka sakral pula jadinya.

 

Apabila seseorang –terpelajar sekali pun—namun memiliki “keyakinan” bahwa sebuah keris dapat memberikan tuah sukses, maka keris itu berubah fungsi sebagai pemicu pikiran sukses. Setiap kali melihat dan mengingat keris kesayangannya, pikiran terpicu untuk suskses. Dalam hal ini keris berperan sebagai motivator.

Syirik?

Dalam Islam ditegaskan bahwa mempercayai sesuatu hal  (benda keris, azimat dan lain-lain) untuk maksud tertentu dengan harapan mendapatkan “pertolongan”  dari benda iru termasuk syirik. Bagi umat Islam hanya kepada Allah mereka bergantung dan memohon. Kalau demikian NLP termasuk media syirik?

 

Dilihat dari perannya, NLP sebagai media pemicu pikiran maka  secara potensial –ini yang mungkin belum disadari oleh penciptanya—bisa ditarik ke dua kitub berseberangan: “kutub hitam” yang “menghalalkan segala cara” yang penting pikiran menjadi terpicu untuk sukses, dan “kutub putih” melarang dengan tegas cara-cara syirik.

 

Mereka yang datang ke paranormal, adalah mereka yang sedang memprogram pikirannya versi paranormal. Ada dua jenis paranormal, yakni, pertama,  Paranormal yang memberikan mantra-mantra tertentu dan azimat. Paranoramal jenis ini sangat rentan akan praktek-praktek berbau syirik. Kesyirikan terjadi karena Paranormal memberikan “azimat” tertentu yang dipercayai oleh pasiennya. Jenis Paranormal kedua adalah Paranormal kategori “Konsultan”. Paranormal ini hanya memberikan ramalan “spekulatif” dengan memberikan sejumlah saran-saran perbaikan perilaku positif pasiennya. Yang seperti ini tentu saja tidak termasuk syirik.

 

Apakah bantuan Paranormal menjamin sukses? Sangat tergantung pada pasiennya. Sejauh mana ia meyakini “mantra” atau “advis” yang diterima. Baik cara “syirik” maupun non syirik, keberhasilannya sangat tergantung pada kondisi pikiran pasien selama menjalani terapi. Apabila pikirannya menjadi setengah hati, tidak begitu yakin, tidak ada perubahan perilaku yang mengarah pada tujuan sukses, maka semua jenis mantra, azimat, advis dan apa pun namanya, maka tidak ada artinya. Tidak ada perubahan apa pun dalam diri seseorang tanpa persetujuan hatinya.

 

NLP yang saya pelajari di Australia termasuk NLP yang “bebas syirik” karena hampir semua metode atau alat picu yang digunakan untuk “memprogram ulang” pikiran adalah metode “artifisial”. Artinya, metode-metode yang digunakan dan dikembangkan tidak bersentuhan atau mengambil dari wilayah dunia syirik. Salah satu contohnya, bagaimana memprogram ulang pikiran adalah dengan teknik  “metafora”. Metafora adalah sebuah teknik merubah kondisi pikiran seseorang  dari kondisi negatif (tidak disiplin misalnya) ke kondisi pikiran siap menjadi berdisiplin dengan cara menggunakan kisah-kisah tertentu. Dengan mendengarkan kisah-kisah yang terpilih, menarik dan cara penyampaiannya yang menarik pula,  kondisi pikiran seseorang bisa dipicu ke arah tertentu (yang lebih baik tentunya)

 

NLP dan Ritual Agama

Menurut hemat saya, ritual-ritual tertentu dari agama tertentu memiliki fungsi yang sama dengan NLP yakni memicu kondisi pikiran ke arah yang lebih baik. Dalam Islam berdo’a atau berdzikir secara khusyuk merupakan program memicu pikiran agar lebih tenang. “Ingatlah bahwa dengan dzikir menyebut nama Allah maka hati menjadi tenang” (QS: Al Baqoroh ayat 186).

 

Peristiwa besar keagamaan seperti hari raya Idhul Fitri misalnya juga dapat dijadikan “alat” pemicu pemograman pikiran. Pada saat seseorang umat Islam sedang bertakbir secara khusyuk: Allahu Akbar 3X, dengan  serius mengahatinya maka peristiwa itu di samping sebagai ibadah tetapi sekaligus untuk dapat digunakan untuk merubah pikirannya, dari pikiran kecil (minder, tidak pede dan sejenisnya) menjadi pikiran besar (tekad dan komitmen besar untuk berubah). Dan hampir semua ritual keagamaan yang diizinkan Tuhan) terdapat banyak ritual yang dapat “memformat ulang” pikiran ke arah positif

 

Meditasi, shalat lima waktu dengan khyusuk dan solat malam dengan ikhlas merupakan ritual yang ampuh untuk menenangkan pikiran. Perlu dicatat bahwa apa pun rencana hidup dan masalah hidup, namun bila tidak dengan kondisi pikiran tenang jangan harap untuk bisa menyelsaikan masalah itu. Pikiran tenang melalui ritual keagamaan, merupakan prakondisi bagi penyelesaian masalah tanpa masalah baru.

 

Dengan demikian, bagi umat yang taat beragama, untuk memprogram pikirannya agar hidupnya sukses (dunia akhirat) tidak perlu datang ke dunia hitam yang sarat dengan kesyirikan. Ritual keagamaan tidak saja merupakan media beribadah namun hikmah dibalik itu semua adalah hikmah yang dapat memicu pikiran menjadi lebih optimal dan bermanfaat. Hanya saja, para pakar NLP belum banyak (belum ada?) yang menggali hikmah-hikmah itu sebagai teknik NLP.

 

Waidi, Penulis buku “On Becoming A Personal Excellent” dan buku “The Art of Re-engineering Your Mind for success”, seta bukau “Membangun Karakter Prima”, Trainer dan Motivator  Pengembangan Diri berbasis NLP dan dosen UNSOED, Purwokerto.

       

6 Tanggapan to 'NLP, TAHAYUL DAN RITUAL AGAMA'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'NLP, TAHAYUL DAN RITUAL AGAMA'.

  1. Siti Rohmah Al-Baniyah said,

    Menurut saya tahayul adalah suatu ajaran yang dilarang untuk dikerjakan karena tahayul itu ternasuk salah satu bid’ah,yang manabid’ah itu adalah suatu ajaran yang dibuat-buat oleh manusia sendiri karena tidak diajarkan oleh nabi

  2. Helmi Hakim said,

    NLP banyak memanfaatkan semua orang!🙂

  3. Denny said,

    Pak, sudah ada rencana unuk menulis buku yang mengupas NLP dalam persektif Islam?. saya pesan satu.

  4. 1heart4love said,

    artikel yang bagus pak, pikiran/otak manusia memang potensi yang luar biasa besar, sampai sekarang aja masih belum terungkap semua kemampuannya. Kalau pikiran/otak saja sedemikian besar potensinya, apalgi hati? Karunia terindah dari Allah S.W.T?

  5. NoorAza said,

    Saya juga baru sedar tentang hubungkait antara NLP dan Islam. Berminat ingin mengetahui dengan lebih lanjut

  6. Felicitas said,

    Hi there! I’m at work surfing around your blog from my new apple iphone! Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts! Carry on the fantastic work!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: