Catatan Harian Waidi\’s


KUASA SIMPATI

Posted in NLP oleh waidi pada Februari 8, 2007

Seorang pembaca rubrik saya di sebuah koran lokal berkeluh-kesah bahwa ia merasa tidak mempunyai teman. Ia jarang bergaul dengan tetangga. Meskipun ia telah berusaha untuk mencari teman, tetapi tetap saja ia merasa gagal dalam berteman (bergaul). Baginya, rumah seperti neraka.

Betapa tersiksanya, bila seseorang merasa gagal dalam pergaulan sosial. Pergaulan sosial, (selanjutnya saya sebut interaksi sosial), merupakan hal yang sangat elementer dalam kehidupan bermasyarakat. Kecerdasan intelektual, prestasi akademik, dan bahkan kekayaan sekalipun menjadi kurang berarti manakala dirinya tidak dapat berinteraksi dengan orang lain.

Menurut hemat saya, hidup ini tidak lebih sebuah interaksi sosial yang saling memberi manfaat. Sekali lagi, hanya soal interaksi sosial yang saling memberi manfaat. Contoh, seorang guru mengajar di kelas tidak lain sedang memberi manfaat. Begitu pun sebaliknya, murid memberi manfaat bagi gurunya. Sebab, tanpa kehadiran murid, profesi guru menjadi tidak bermanfaat. Dalam kehidupan bisnis juga demikian yakni penjual dan pembeli juga saling memberi manfaat.

Siapa saja yang pandai berinteraksi merupakan modal sosial yang sangat strategis. Seorang pemimpin akan berhasil memimpin bila ia pandai memberikan manfaat sosial bagi orang lain. Ia diterima kepemimpinnya karena telah memberi manfaat. Begitu juga seorang sales akan mampu menjual barangnya bila barang yang dijual memberikan nilai manfaat bagi calon pembeli.

Bagaimana cara membangun interaksi sosial yang efektif? Simpati pada orang lain merupakan kunci keberhasilan dalam interaksi sosial. Membangun simpati berarti berarti memahami dunia orang lain. Setiap individu memiliki dunianya yang berbeda atas pengalamannya tehadap suatu hal. Dalam NLP (neuro linguistic programming) disebut subjective experience. Istilah “tempe”, misalnya, bagi sebagian warga Banyumas bisa berkonotasi jorok, tetapi bagi warga luar Banyumas berarti makanan yang terbuat dari kedelai yang biasanya disajikan untuk lauk-pauk. Perbedaan ini terjdi karena persepsi atas pengalaman subjektif seseorang.
Perbedaan persepsi menjadi biang terjadinya salah pengertian dan konflik. Perbedaan persepsi adalah perbedaan cara memaknai pengalaman bagi setiap orang. Karena perbedaan dunia, atau perbedaan persepsi inilah, simpati kepada setiap orang menjadi hal yang sangat penting dalam interaksi sosial. Kegagalan memahami dunia orang lain melalui simpati, adalah kegagalan dalam membangun interaksi sosial yakni kegagalan di dalam pergaulan sehari-hari.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana membangun simpati pada orang lain? Pertama, prasayaratnya adalah rendah hati. Sifat rendah hati, siapa pun Anda, menjadi kunci pembuka pintu simpati orang lain. Sebab, manakala seseorang sudah berani –disengaja atau tidak—memposisikan diri “Aku lebih hebat dari pada Anda” atau “Anda lebih hebat dari pada orang lain”, pintu simpati telah tertutup rapat. Saluran komunikasi tertutup oleh orang-orang yang tinggi hati seperti itu.

Rendah hati berarti keikhlasan seseorang untuk “menelanjangi diri”, alias bicara tanpa embel-embel pangkat dan derajat. Tanpa persepsi alias nol. Yang ada hanyalah komunikasi sesama hamba Tuhan. Ia harus bicara dalam gelombang atau nada yang sama dengan orang lain. Perbedaan gelombang dan nada dapat menjadikan tersumbatnya komunikasi.

Kedua, fleksibelitas. Ada kecendurangan diantara kita untuk “memaksa” orang lain untuk memahami apa yang kita inginkan/pikirkan. Ada “pemaksaan” bahwa apa yang kita pikirkan, kita petakan dalam pikiran, dianggap sama dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Yang demikian salah besar dalam meraih simpati. Ingat, setiap orang memiliki dunianya sendiri, memiliki persepsinya sendiri meski dalam hal/barang yang sama (ingat kasus “tempe” di atas).

Bukan orang lain yang bodoh atau –maaf—tolol sehingga orang lain sulit sekali menerima argumen atau pemikiran kita, melainkan kitalah yang –barangkali—terlalu egois, kaku, dan maunya menang sendiri. Bukan anak-anak kita yang bandel, melainkan, kitalah yang selalu berpikir dengan cara atau kacamata kita sendiri tanpa pernah memahami dunia mereka.

Fleksibelitas menjadi kata kunci dalam mengatasi perbedaan persepsi tersebut. Fleksibelitas berarti kesediaan seseorang untuk mau memasuki persepsi (dunia) orang lain. Bukan berarti meerendahkan diri, melainkan hanya sebuah strategi menghargai persepsi orang lain agar terjalin kecocokan bicara menuju terbentuknya sebuah simpati.

Cara yang paling mudah untuk membangun simpati adalah melalui gaya bahasa mereka (orang lain). Bila mereka bicara dengan nada pelan, Anda juga pelan, bila mereka intonasinya meninggi, sesekali juga ikuti demikian. Termasuk, kata-kata yang sering mereka pakai, Anda juga harus menyesuaikannya. Juga jangan segan-segan meniru bahasa tubuh mereka. Kenapa demikian? Sebab, simpati berawal dari berbagai kecocokan dalam berkomunikasi. Dan sumber-sumber kecocokan banyak ragamnya.

Siapa saja yang rendah hati dan pandai menyesuaikan diri dengan dunia orang lain, dialah seorang komukator simpatik dan ulung. Siapa yang ulung dalam meraih simpati dialah pemenang dalam pergaulan/bermasyarakat. Itulah kuasa simpati.

Satu Tanggapan to 'KUASA SIMPATI'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'KUASA SIMPATI'.

  1. Helmi Hakim said,

    Social Interaction ini amat penting dalam arus kehidupan moden.
    NLP dapat membantu dalam perihal tersebut!
    Insyallah🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: